Di dalam berbagai perencanaan pemerintah, selalu disebutkan bahwa pengembangan industri manufaktur ditujukan untuk menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin dan memacu pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dua tujuan yang saling paradoks. Betapa beratnya beban yang harus diemban oleh sektor industri. Kasian sektor industri dan sekaligus mencerminkan perencanaan yang kurang realistis.
Industri padat karya tidak mungkin mendongkrak pertumbuhan tinggi, karena industri padat karya cenderung berteknologi sederhana dengan produktivitas rendah. Industri yang berproduktivitas tinggi adalah yang berteknologi canggih dan cenderung hemat tenaga kerja. Kepadanyalah diharapkan daya saing.
Menurut penelitian Hal Hill (1990) penyerapan tenaga kerja industri manufaktur (skala besar dan sedang) tahun 1985 hanya 3,0 persen dan 4,3 persen jika termasuk industri kecil. Penelitian penulis menunjukkan bahwa tahun 2003, penyerapan tenaga kerja industri manufaktur hanya 4,5 persen dan menjadi 12,3 persen jika termasuk industri kecil.
Fakta ini mengingatkan bahwa pada tataran kebijakan pengembangan industri manufaktur (skala besar dan sedang) seharusnya lebih fokus pada teknologi, produktivitas dan daya saing. Sedangkan pengembangan industri kecil lebih fokus pada penyerapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinan. (Hamsar Lubis)
Selasa, 22 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
4 komentar:
Tulisannya Bagus pak...
Tapi bagusnya dilengkapi pak. Kayak belum lengkap pak.
Pak Hamsar,
Ini memang repot pot..pot... pertumbuhan ekonomi y.o.y semester I 2007, sektor industri manufaktur menyumbang 1,5% dari angka pertumbuhan 6,3%. Padahal seperti yang Anda bilang sektor ini sejatinya bersifat padat modal. Sedangkan sektor yang padat karya, seperti pertanian, cuma mengalami pertumbuhan 0,4%. Uppsss
siiiipp pak,,
stuju bgd!!
memang seharusnya sektor manufaktur berskala besar dan sedang lebih condong pada penggunaan tekhnologi yg mutakhir,karna daya saing itu penting bgd,,secara globalisasi sangat mengancam bangsa indonesia karna lemahnya daya saing yg disebabkan rendahnya tekhnologi yg diterapkan pada manufaktur,, biarlah manufaktur berskala besar dan sedang menerapkan tekhnologi canggih guna kelangsungan perusahaan2 tersebut di masa depan, mencegah angka pengangguran yg lebih tinggi, dan menciptakan iklim investasi yg lebih baik,, sedangkan untuk manufaktur berskala kecil (home industry dan ukm2 kecil) diusahakan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja, toh bangsa indonesia jika dilihat jauh kebelakang adalah bangsa yg kreatif, betul tidak?? (banyak sekali kan kerajinan, kesenian, kuliner, dan sektor yg lainnya yg telah diciptakan oleh bangsa kita?!!).. nah disinlah yg menurut saya harus lebih diperhatikan oleh pemerintah, yaitu pemberdayaan usaha berskala kecil!! mulai dari pemberian pinjaman modal, penyuluhan, pendidikan dan pelatihan, bahkan kalo perlu jalur distribusi produk mereka diperhatikan!!! sehingga insyaallah usaha2 kecil dapat survive, bahkan mengembangkan sayapnya ke mancanegara! why not?!!
saya yakin, jika pemerintah benar2 memperhatikan usaha2 kecil, kemakmuran bangsa ini dapat ditingkatkan, penyerapan tenaga kerja meningkat, kurangnya angka pengangguran, tingkat kemiskinan menurun, dan nama bangsa ini akan diperhitungkan di mata dunia, seperti halnya cina,,
ok,,
maju terus pak,,
Posting Komentar